rss

Bantuan Khusus Mahasiswa

Pada tanggal 29 Mei 2008 kemarin, Mentri Pendidikan Nasional, Bambang Soedibyo mengemukakan tentang pemberian Bantuan Khusus Mahasiswa (BKM) yang akan diberikan sebagai kompensasi kenaikan BBM bagi sekitar sepuluh persen jumlah mahasiswa di seluruh Indonesia. BKM senilai Rp. 500.000 tersebut akan diberikan pada semester ganjil 2008 nanti. Ada sekitar 400.000 mahasiswa yang memperoleh BKM dari sekitar 4.000.000 mahasiswa aktif di seluruh Indonesia.
Terkait rencana pemerintah tersebut, banyak pihak yang tidak menyetujuinya. Mahasiswa dan sebagian pihak lainnya menganggap bahwa pemberian BKM ini bertujuan untuk meredam aksi mahasiswa menolak kenaikan BBM. Alasannya, bahwa selama ini pemerintatah tidak pernah mengungkapkan tentang rencana pemberian BLT untuk mahasiswa atau yang disebut BKM tersebut. Program BKM tersebut tiba-tiba dilontarkan pemerintah setelah aksi mahasiswa menolak kenaikan BBM meluas. Oleh karena itulah program ini dianggap untuk meredam aksi mahasiswa menolak kenaikan BBM.
Tapi hal itu ditampik oleh pemerintah. Mentri Komunikasi Informasi, Muhammad Nuh, mengatakan bahwa program ini bukan untuk meredam aksi mahasiswa. ” Jika dikatakan demikian, hal itu sangat naif. Itu sama saja mengatakan kalau mahasiswa bisa disuap dan tidak punya idealisme. Kita hanya ingin membantu,” kata Nuh seperti mana yang dilampir oleh Banjarmasi post.
Terkait pro kontra tersebut, BKM memang akan sangat membantu mahasiswa di tengah naiknya harga BBM yang otomatis akan menaikan pula harga makanan di kantin dan menaikan biaya kuliah. Terlebih di perguruan tinggi swasta dan perguruan tinggi negeri BHMN yang mengandalkan pemasukan dana dari mahasiswa untuk menutup biaya operasional kampus.


Mungkin program BKM itu sekilas nampak sebagai budi baik pemerintah terhadap rakyatnya. Betapa tidak mahasiswa diberikan uang gratis oleh negara tanpa usaha apapun. Tentu itu adalah hadiah yang sangat berharga, terlebih bagi mahasiswa yang kurang mampu.
Tapi, tentu mahasiswa adalah segolongan elit yang cerdas di negeri ini. Mahasiswa mengetahui bahwa asumsi pemerintah untuk menaikan harga BBM adalah salah besar. Mahasiswa tahu bahwa di venezuela, harga premium itu hanya sekitar Rp.400,- sedangkan di Indonesia seharga Rp.6000,-. Bahkan mahasiswa pun tahu bahwa venezuela memberikan penawaran kepada Indonesia untuk membeli BBM yang murah tersebut. Tapi Indonesia tidak menerimanya. Alasannya satu, bahwa harga BBM (premium) di pasar Internasional adalah Rp.12.000,-.
Mahasiswa tahu bahwa pemerintah mereka adalah penakut, karena negeri ini sudah penuh hutang dan berhutang budi pada Bank Dunia dan IMF. Sehingga negeri yang kaya ini harus tunduk saja pada kemauan mereka. Negeri ini menjadi ayam yang mati di lumbung padi. Mahasiswa tahu semua ini sehingga mereka menunjukan keberanian mereka dengan berunjuk rasa dan lempar-lemparan batu dengan polisi yang lebih gagah daripada mereka. Mahasiswa lakukan itu karena ingin pemerintah menjadi pemberani seperti mereka.
Tapi memang, sejauh pengalaman membuktikan. Aksi unjuk rasa mahasiswa menolak kenaikan BBM tidak pernah berhasil membuat pemerintah untuk mengikuti kemauan mereka. Mengapa, karena pemerintah terikat oleh uu tahun 2001 tentang BBM yang menyatakan bahwa libelarisasi pertambangan dilakukan untuk usaha hilir dan hulu. Artinya, BBM kini tidak dianggap lagi menjadi barang ”hajat hidup orang banyak”. Tapi sebagai barang konsumsi yang mengikuti mekanisme pasar kapitalis global. Yakni sebuah perjudian terbesar dimana harga dan kekayaan diputar-putar dalam jutaan lembar saham. Karena inilah, maka pemerintah tidak bisa berbuat apapun kecuali menaikan harga BBM untuk masyarakat.
Rakyat tidak pernah berjudi di dalam pialang saham di Amerika tersebut. Tapi masyarakat menderita karena perjudian itu, yakni karena pemeritahnya tunduk pada mekanisme perjuadian tersebut. Inilah yang menjadi sebab mengapa pemeritah menaikan harga BBM dan menjadi sebab mengapa tidak bergunanya aksi unjuk rasa jika bertujuan untuk memaksa pemerintah tidak menaikan BBM. Logikanya, pemeritah diancam oleh dunia Internasional (kapitalis) dengan boikot, hutang dan kekuatan militer super power. Sedangkan mahasiswa hanya mengancam pemerintah dengan nyel-nyel, teriakan dan kecaman, serta lemparan batu-batu kecil yang tak bisa meledakan istana negara hingga menjadi hancur lebur.
Tapi, apakah semua ini benar. Tentu pemerintah dan mahasiswa bisa saja menolak semuanya.

Oleh Kikam Zam
Mahasiswa fisipol UGM 2005

4 komentar:

Anonymous said...

klo saya sie setuju aja klo ada BLT...

ruginya apa coba?

manfaatin Pemerintah kan Gpp..

Vei on 8 June 2008 at 01:01 said...

tau ah gelap.. yang jelas subsidi itu harus sampe sama orang yang bener2 membutuh kan klo ngga gitu sama aja bohong.. soalnya yang aku liat sekarang malah banyak orang yang seharusnya dapet malah ngga dapet dan orang yang seharusnya ngga dapet malah dapet.. penolakannya aja unik yaitu dengan mempersulit prosesnya.. padahal mudah saja..

oRiDo™ on 10 June 2008 at 08:19 said...

di kasih bantuan semenel tapi dikasih beban (gara2 kenaikan BBM) yang berat...
ya gimana mo hidup??

bukan masalah ya daripada gak samasekali..
tapi ya itu sih uang jajan buat keluarga yg butuh makan seharian..
gak rasional lah...

semoga endonesia semakin lebih baek...

mustafa said...

mungkin itu cuma politik pemerintah kali ya...........


Post a Comment